Halaman

Tampilkan postingan dengan label BeraniCerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BeraniCerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Oktober 2013

[BeraniCerita #30] Tak Menyatu



Sudah lima belas menit aku menunggu. Dia belum datang juga. Sebentar lagi kereta akan berangkat. Kereta yang setiap pagi selalu kami tumpangi untuk membawa kami ke tempat kerja di pusat kota. Penuh kaum urban pekerja keras pengais rejeki dari pinggir kota yang rela berdesakan demi mendapatkan bangku kosong dan ingin segera tiba ke tujuan.

Aku masih menunggunya di bangku kayu panjang yang ada di peron stasiun ini. Sebuah bangku yang menjadi saksi pertemuanku dengannya. Biasanya kami akan duduk disitu sambil menunggu salah satu dari kami yang datang belakangan. Kemudian kami  akan naik kereta yang sama dan duduk bersebelahan atau kadang juga berdiri berdekatan. Ketika sampai di stasiun tujuan, kami akan berpisah menuju tempat kerja masing-masing.

Sudah tiga bulan ini hubungan kami makin akrab. Tanpa sadar kami sudah saling menyebut kata sayang, aku juga tidak tahu mengapa bisa begitu nyaman bila berada di dekatnya. Aku selalu merasa bahagia bila bersamanya. Bahkan kadang setelah pulang kantor kami janjian di sebuah coffee shop untuk sekedar saling curhat masalah kerjaan atau keluarga. Pulang kerjapun kami akan selalu naik kereta yang sama.

Senin, 26 Agustus 2013

[BeraniCerita #24] Bukan Vivienne



Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata. Isaknya terus mendera, menumpahkan begitu banyak beban yang terpendam. Apakah harus begini akhirnya Vivienne? Karir yang selalu kau damba-dambakan berujung pada air mata.
Vivienne seorang artis ternama yang sudah menetap di ibu kota sejak tiga tahun lalu. Meninggalkan desanya yang jauh di Sleman dan orang-orang yang sangat dicintainya. Mengejar impian jadi bintang film. Dipuja banyak orang. Hidup mewah penuh gemerlap. Kilatan blitz selalu menerpanya dimanapun berada. Santapan lezat media massa.
“Aku capek, aku mau berhenti,” ujarnya sambil melepaskan pelukan.
“Tapi jadi artis adalah impian yang selalu kau inginkan dari dulu, kau sudah berhasil,” aku berusaha menenangkannya.
“Aku nggak sanggup lagi, semua ini palsu. Aku harus bertopeng setiap hari.”
“Sudahlah, sabar semua ada konsekuensinya.”
Aku mengajak Vivienne duduk di sebuah kursi kayu yang ada di ruang tamu rumah kecilku ini. Aku memasukkan dua buah koper yang dia bawa tadi ke dalam rumah. Matanya masih basah.
“Duniaku sangat berat, kalau tidak bisa beradaptasi bisa cepat tergilas. Dituntut selalu tampil cantik. Setiap saat harus senyum ke semua orang yang memandang. Mencoba bersikap manis pada sesama artis padahal kami semua penuh intrik. Menciptakan citra baik di mata masyarakat. Sering tampil di media biar tetap eksis. Menciptakan gosip biar tetap dibicarakan orang. Bahkan kalau memungkinkan buatlah skandal biar tetap jadi buah bibir.”

Sabtu, 27 Juli 2013

[BeraniCerita #22] Tangga Itu


Tangga itu yang membuatku trauma. Tangga di rumah mertuaku ini. Aku pernah jatuh terpeleset disana. Tangga yang berada di ruang tengah rumah dua lantai ini yang mengubungkan lantai satu dengan sebuah kamar beserta kamar mandinya di lantai dua. Kamar kita sejak menjadi pasangan pengantin baru.
Aku tinggal ikut mertua karena kamu belum punya rumah sendiri. Itu tidak menjadi masalah buatku pada awalnya. Aku bisa beradaptasi dengan lingkungan dan suasana baru. Berbaur dengan mertua dan kedua adik perempuanmu. Aku harus bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan keluarga ini. Aku harus berpura-pura manis didepan mertuaku walaupun sebenarnya aku sedang jengkel sama kamu. Lama-lama ini tidak membuatku nyaman.
          Tangga itu yang seharusnya jadi pemisah antara keluarga kecil kita dan keluarga besarmu. Aku ingin membangun keluarga sendiri. Tanpa ada campur tangan orang lain. Aku sudah bosan dengan sindiran ibu mertuaku ketika sedang berbicara dengan adikmu di lantai bawah. Kadang suaranya sedikit dikeraskan bila membahas tentang aku. Aku yang sering telat bangun pagi. Aku yang tidak bekerja. Aku yang tidak beres mengurus suami. Aku yang ini dan itu.
Hal ini berlangsung terus hingga lima tahun. Ditambah lagi keberadaanku yang belum hamil juga. Kamu kan tahu kita sudah pernah memeriksakan hal ini ke dokter kandungan dan kita berdua dinyatakan sehat. Bukan salahku jika sampai saat ini kita belum punya anak. Tuhan belum mempercayakannya pada kita. Tapi ibu mertuaku terus saja mempermasalahkan hal itu. Aku capek.