Halaman

Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2014

Gadis dan Jaka



“Maukah kau menikah denganku?”
“Dengan satu syarat.”
“Apapun syaratmu akan kupenuhi”
“Baiklah kalau begitu. Aku punya permintaan sebelum kau menikahiku.”
“Katakan saja.”
“Buatkan aku seribu candi dalam satu hari satu malam.”
Tunggu sebentar, ini bukan kisah legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Ini cerita cinta biasa, tentang seorang Gadis yang sudah kehabisan cara untuk menolak sang Jaka yang ingin segera menikahinya.
“Kalau mau nolak pake alasan yang masuk akal dong!”
“Aku bingung mau menolak dengan cara apa lagi.”
“Kenapa aku harus ditolak?”
“Kita tidak bisa menikah, aku tidak ingin kau kecewa.”
“Mencintaimu itu seperti kutukan, aku rela terbakar karena telah menyentuhnya. Aku sanggup melawan dunia karenamu.”
“Mengapa kau mengaduk perasaanku? Memberi cinta yang berlimpah hingga aku tersesat di dalamnya.”
“Karena kau pantas menerimanya.”
“Kau terlalu sempurna buatku.”
“Apakah kau masih meragukan cintaku?”
“Aku tidak meragukannya. Aku bisa melihat dengan jelas isi hatimu meski tanpa memandang ragamu”

Rabu, 09 Oktober 2013

[BeraniCerita #30] Tak Menyatu



Sudah lima belas menit aku menunggu. Dia belum datang juga. Sebentar lagi kereta akan berangkat. Kereta yang setiap pagi selalu kami tumpangi untuk membawa kami ke tempat kerja di pusat kota. Penuh kaum urban pekerja keras pengais rejeki dari pinggir kota yang rela berdesakan demi mendapatkan bangku kosong dan ingin segera tiba ke tujuan.

Aku masih menunggunya di bangku kayu panjang yang ada di peron stasiun ini. Sebuah bangku yang menjadi saksi pertemuanku dengannya. Biasanya kami akan duduk disitu sambil menunggu salah satu dari kami yang datang belakangan. Kemudian kami  akan naik kereta yang sama dan duduk bersebelahan atau kadang juga berdiri berdekatan. Ketika sampai di stasiun tujuan, kami akan berpisah menuju tempat kerja masing-masing.

Sudah tiga bulan ini hubungan kami makin akrab. Tanpa sadar kami sudah saling menyebut kata sayang, aku juga tidak tahu mengapa bisa begitu nyaman bila berada di dekatnya. Aku selalu merasa bahagia bila bersamanya. Bahkan kadang setelah pulang kantor kami janjian di sebuah coffee shop untuk sekedar saling curhat masalah kerjaan atau keluarga. Pulang kerjapun kami akan selalu naik kereta yang sama.

Senin, 26 Agustus 2013

[BeraniCerita #24] Bukan Vivienne



Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata. Isaknya terus mendera, menumpahkan begitu banyak beban yang terpendam. Apakah harus begini akhirnya Vivienne? Karir yang selalu kau damba-dambakan berujung pada air mata.
Vivienne seorang artis ternama yang sudah menetap di ibu kota sejak tiga tahun lalu. Meninggalkan desanya yang jauh di Sleman dan orang-orang yang sangat dicintainya. Mengejar impian jadi bintang film. Dipuja banyak orang. Hidup mewah penuh gemerlap. Kilatan blitz selalu menerpanya dimanapun berada. Santapan lezat media massa.
“Aku capek, aku mau berhenti,” ujarnya sambil melepaskan pelukan.
“Tapi jadi artis adalah impian yang selalu kau inginkan dari dulu, kau sudah berhasil,” aku berusaha menenangkannya.
“Aku nggak sanggup lagi, semua ini palsu. Aku harus bertopeng setiap hari.”
“Sudahlah, sabar semua ada konsekuensinya.”
Aku mengajak Vivienne duduk di sebuah kursi kayu yang ada di ruang tamu rumah kecilku ini. Aku memasukkan dua buah koper yang dia bawa tadi ke dalam rumah. Matanya masih basah.
“Duniaku sangat berat, kalau tidak bisa beradaptasi bisa cepat tergilas. Dituntut selalu tampil cantik. Setiap saat harus senyum ke semua orang yang memandang. Mencoba bersikap manis pada sesama artis padahal kami semua penuh intrik. Menciptakan citra baik di mata masyarakat. Sering tampil di media biar tetap eksis. Menciptakan gosip biar tetap dibicarakan orang. Bahkan kalau memungkinkan buatlah skandal biar tetap jadi buah bibir.”

Sabtu, 27 Juli 2013

[BeraniCerita #22] Tangga Itu


Tangga itu yang membuatku trauma. Tangga di rumah mertuaku ini. Aku pernah jatuh terpeleset disana. Tangga yang berada di ruang tengah rumah dua lantai ini yang mengubungkan lantai satu dengan sebuah kamar beserta kamar mandinya di lantai dua. Kamar kita sejak menjadi pasangan pengantin baru.
Aku tinggal ikut mertua karena kamu belum punya rumah sendiri. Itu tidak menjadi masalah buatku pada awalnya. Aku bisa beradaptasi dengan lingkungan dan suasana baru. Berbaur dengan mertua dan kedua adik perempuanmu. Aku harus bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan keluarga ini. Aku harus berpura-pura manis didepan mertuaku walaupun sebenarnya aku sedang jengkel sama kamu. Lama-lama ini tidak membuatku nyaman.
          Tangga itu yang seharusnya jadi pemisah antara keluarga kecil kita dan keluarga besarmu. Aku ingin membangun keluarga sendiri. Tanpa ada campur tangan orang lain. Aku sudah bosan dengan sindiran ibu mertuaku ketika sedang berbicara dengan adikmu di lantai bawah. Kadang suaranya sedikit dikeraskan bila membahas tentang aku. Aku yang sering telat bangun pagi. Aku yang tidak bekerja. Aku yang tidak beres mengurus suami. Aku yang ini dan itu.
Hal ini berlangsung terus hingga lima tahun. Ditambah lagi keberadaanku yang belum hamil juga. Kamu kan tahu kita sudah pernah memeriksakan hal ini ke dokter kandungan dan kita berdua dinyatakan sehat. Bukan salahku jika sampai saat ini kita belum punya anak. Tuhan belum mempercayakannya pada kita. Tapi ibu mertuaku terus saja mempermasalahkan hal itu. Aku capek.

Jumat, 07 Juni 2013

Masih Ada Kereta Api ke Medan



Baru saja aku meletakkan tas ransel di rak barang atas dan hendak duduk, ketika seorang gadis menegurku dengan suara tegas. “Kursi ini masih kosong  Bang?” tanyanya. Aku mengangguk pelan tanda mengiyakan.
“Boleh aku yang duduk disebelah jendela, Bang?” sapanya kemudian.
“Silahkan,” dengan ragu ku jawab sambil tersenyum kecil. Sebenarnya aku tidak rela memberikan kursi di dekat jendela itu kepadanya karena aku selalu senang duduk di posisi itu kalau sedang naik kereta api. Sebagai seorang pria sudah seharusnya aku mengalah, mungkin dia yang lebih membutuhkan kenyamanan berada di posisi tempat duduk itu.
Para penumpang yang lain masih berlalu-lalang memilih tempat duduk karena di kereta api Sribilah Utama kelas ekonomi ini, pada tiketnya tidak tertera nomor kursi yang seharusnya kita duduki tetapi para penumpang dibebaskan memilih sendiri kursi yang hendak mereka tempati. Cara yang tidak efektif, semrawut dan membuat para penumpang berjubel saling merebut kursi.
Pukul 08.40 WIB peluit tanda keberangkatan dibunyikan dan tidak lama kemudian kereta api pun melaju perlahan menuju Medan dari stasiun kecil ini di Rantau Prapat. Membawaku pulang ke rumah. Tempat yang sudah kudiami sejak aku lahir dua puluh tahun yang lalu. Benarkah disana tempat aku pulang? Ataukah ada tempat lain yang sesungguhnya untuk aku pulang? Saat ini aku belum bisa menjawabnya.

Jumat, 31 Mei 2013

Becak Motor



             “Gimana ceritanya?”
            “Liburan semester kemarin teman satu kos ku, Togu mengajak pergi ke kampungnya di Kabanjahe, sekalian menjenguk orang tuanya disana,” Eben mengawali ceritanya. “Karena belum pernah menginap disana, saya memutuskan untuk menerima ajakannya.”
“Wah pasti seru ni pengalamannya, terus?”
“Orang tua Togu mempunyai tanah yang sangat luas. Mereka menanaminya dengan sayur-sayuran dan buah-buahan. Suasananya sangat nyaman dan lingkungannya begitu sejuk. Di sekeliling yang tampak cuma hamparan hijau tanam-tanaman dan langit biru yang begitu bersih beserta awan-awannya yang seakan bisa dipegang. Dari rumahnya juga tampak pemandangan gunung Sinabung yang tinggi menjulang. Udaranya sejuk sekali sekaligus beraroma magis.”
“Ben, ini horornya dimana?”
“Tenang dulu Bang, baru mau masuk ini,” Eben melanjutkan ceritanya. “Jadi gini, pada malam kedua kami menginap di kampung itu, aku iseng mengajak Togu jalan-jalan keluar rumah pada malam hari. Menyusuri perkebunan disekitar kampung. Saat itu sudah hampir tengah malam. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah bangunan kecil seperti rumah yang berada disekitar perkebunan jeruk yang letaknya kurang lebih 500 meter dari rumah Togu. Karena penasaran, aku sedikit mendekatinya dan ternyata itu adalah sebuah kuburan,” Eben menghela nafas sejenak.

Minggu, 27 Januari 2013

Tining dan Marlon


Jogja berbintang malam ini. Namun masih saja sepi disini, apalagi semenjak bapak pergi entah kemana. Tinggal ibu dan ketiga mbakku yang juga tidak begitu peduli denganku. Seperti biasa sunyi malam ini. Aku cuma bisa memandangi sebuah jembatan di depan rumah yang jarang dilewati orang. Jembatan tua yang sudah hampir roboh dan banyak orang bilang angker karena sudah banyak orang yang nekat bunuh diri disitu. Tempat yang strategis untuk mati. Cuma sungai kecil yang mengalir dibawahnya masih merdu terdengar suara gemericik airnya.
Itu ada seorang pria lewat sendirian. Mau kemana sendirian jalan kaki malam-malam begini. Dari wajahnya kelihatan masih muda, mungkin usianya sekitar dua puluhan tahun. Raut wajahnya keras, sepertinya dia bukan orang sini. Dari tadi pria itu cuma mondar-mandir aja di tengah jembatan, apa dia mau bunuh diri juga. Sepertinya iya.
Dia berdiri di satu sisi jembatan, kepalanya sering melihat ke bawah, matanya dipejamkan, eh melek lagi. Melihat ke kanan ke kiri. Mundur beberapa langkah. Maju lagi. Kelihatannya masih bingung. Payah laki-laki kok nggak tetap pendiriannya. Tak samperin ah.
“Mau bunuh diri, Mas ?” sapaku.
Dia terkejut dan bisa melihatku, lalu mundur beberapa langkah.

Minggu, 25 November 2012

Ini Saja Sudah Cukup


Aku selalu merasa senang berada di tempat-tempat seperti terminal, stasiun, pelabuhan dan bandara. Tempat mangkalnya alat-alat transportasi yang akan mengantarkan para penumpang pergi ke tempat tujuan. Ada yang berangkat ada yang pulang. Ada yang mengantar ada yang menjemput. Riuh ramai tapi menyenangkan melihat suasana seperti ini. Mereka saling mengungkapkan rasa dengan saling berpelukan, bersalaman, bertatapan dan senyuman. Bahkan kita bisa melihat banyak cinta disini.
Seperti aku sekarang disini, di sebuah stasiun kereta, sendiri. Aku akan pergi dari kota ini, menjauh darimu untuk entah berapa lama. Ya aku mengaku kalah karena pergi darimu. Aku tidak mau merusak hubungan cintamu dengan dia. Meski aku harus memendam rasa ini. Meski aku bisa mati bila tanpamu.
Dulu waktu kita pertama kali bertemu juga di kereta api dalam sebuah perjalanan. Aku sendiri kamu juga sendiri. Tujuanku pergi ke kota lain untuk suatu urusan dan kamu pulang ke kampung halaman tempat kedua orang tuamu dalam rangka liburan. Mungkin kita sudah ditakdirkan untuk duduk di nomor kursi yang bersebelahan. Kamu memohon duduk di kursi yang dekat dengan jendela meski nomor kursi itu adalah tempat dudukku. Itu awal percakapan kita. Mungkin aku merasa ini jatuh cinta pada pandangan pertama.

Minggu, 12 Agustus 2012

Putih


Putih. Itu yang ku lihat pertama kali waktu mataku perlahan terbuka. Dinding-dinding ini, langit-langit, awan tipis yang menyembul di balik jendela, tempat tidur, pakaian beberapa orang disekitarku. Pandanganku yang samar-samar mulai terang. Aku paksa mata ini terbuka. Sudah berapa lama aku terpejam, entahlah aku tak mampu mengingatnya. Ada beberapa orang yang kukenal disekelilingku mungkin mereka sedang menjagaku. Mereka saling berbicara namun aku tidak begitu jelas mendengar suara mereka.
 
Ada ibu disampingku, tapi kenapa ada air mata dipipinya. Jangan menangis ibu aku baik-baik saja. Tangan ibu mulai membelai kepalaku, mengusapnya perlahan dengan hangat. Maafkan aku ibu, anak yang sering menyusahkanmu bahkan di saat seperti ini pun aku masih membuatmu menangis. Entah sudah berapa lama ibu duduk disampingku, guratan-guratan lelah di wajahnya begitu jelas tergambar. Bapak dan adikku juga ada disini. Wajah mereka juga tampak mendung.

Jumat, 29 Juni 2012

Hijaunya Pacarku

Kenalkan pacarku ini, namanya Indah Januari Oetami. Nama belakangnya memang pakai ejaan lama karena itu nama kakeknya. Gadis manis berdarah Jawa yang masih kuliah semester tiga. Entah kenapa dia suka banget sama warna hijau. Kalau ditanya, katanya hijau itu adem dan menyejukkan. Apalagi kalau sedang berkendaraan di jalan, yang paling ditunggu itu kan warna hijau karena boleh jalan terus. Jadi hijau itu penting.

Semua pakaiannya berwarna hijau atau setidaknya ada sedikit nuansa hijaunya. Ada yang hijau lumut, hijau pupus, hijau tua, hijau muda, hijau royo-royo, hijau .... ah yang penting baginya tetap hijau. Mungkin koleksinya melebihi koleksi kebayanya Nyi Roro Kidul. Bisa jadi ia penyuka warna hijau karena namanya itu tadi, menurutnya kalau disingkat inisial namanya jadi IJO (maksa banget kan). Jadi semisal ada orang yang bernama Putri Istana Negeri Kemuning, apakah dia pasti penyuka warna PINK ?

Senin, 30 April 2012

Berbagi Bapak


Beep ... beep ... beep .....

“Halo …”
“Halo … Mbak !”
“Sudah kubilang jangan telepon aku lagi, aku gak mau menjenguk Bapak.”

Aku nggak mau melihat bapak meskipun dia kini sedang terbaring di rumah sakit. Aku benci sama bapak. Sejak dia memutuskan untuk berpoligami, bapak sudah menghancurkan hati ibuku dan juga hatiku. Apa kurangnya ibu. Ibu yang begitu setia sama bapak. Ibu yang begitu tulus dan jujur. Ibu yang penuh ikhlas menyayangi. Ibu yang sangat baik meskipun dia merelakan pasangan hidupnya harus dimiliki juga oleh orang lain. Aku tahu hatinya hancur tapi dia tidak pernah memperlihatkannya. Mengapa bapak begitu tega. Padahal dulu aku begitu membanggakan bapak.

Bapak menikah lagi ketika aku berusia tujuh tahun. Aku belum mengerti poligami saat itu. Yang aku tahu cuma bapak sudah jarang tidur bersama kami lagi dalam satu rumah. Jika aku bertanya, ibu selalu bilang bahwa bapak sedang tugas keluar kota. Sebagai anak tunggal aku masih butuh bapak, bukan cuma materi tapi juga kasih sayangnya. Ibu baru memberi tahu soal itu ketika aku sudah duduk dibangku SMP. Sebagai wanita aku bisa merasakan pedihnya hati ibu kala itu.

Selasa, 03 April 2012

Sajadah

Idul Fitri, hari yang paling ditunggu umat muslim. Seperti aku yang tiap tahun selalu menunggunya karena di hari itu aku bisa berguna dan merasa bahagia. Setelah setahun berada di ruang gelap yang harum kapur barus, aku merasa bisa bebas bernafas dan menguap. Bisa melihat indahnya dunia dan hangatnya sinar mentari. Gema takbir yang terus mengalun merdu di seluruh masjid begitu menggetarkan jiwa. Aku ingin tiap hari adalah hari Idul Fitri.
 
Aku selalu merasa sunyi sendiri. Hari ini aku kembali keluar dari persembunyianku. Kini aku sudah berada di pundak pemilikku yang beserta keluarganya sudah siap-siap pergi ke masjid melaksanakan sholat Idul Fitri. Pemilikku, seorang bapak separuh baya yang sukses di kehidupannya. Punya seorang istri cantik yang selalu menemaninya dan dua orang anak yang sudah pasti selalu menikmati kekayaannya. Beliau juga punya perusahaan besar yang sudah berjalan dengan baik. Kami pergi dengan mengendarai sebuah mobil ke masjid yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah dan setelah beberapa saat akhirnya kami sampai juga di sebuah masjid indah yang berada di pinggir komplek perumahan.


Selasa, 07 Februari 2012

Le


“Ya sudah sekarang cari sana bapakmu le, sudah lama kan dia belum pulang, 13 tahun le bapak pergi ninggalin kita. Bapakmu pengecut, mungkin pikirannya sedang kalut waktu itu. Dia bingung, stress dan merasa kalah”.

Dia diam saja tak menjawab. 

“Dulu simbok melarang mencari bapakmu karena le masih kecil, biar saja bapakmu pergi nggak usah dicari-cari kalau dia mau pulang biar saja pulang sendiri. Jaga saja dulu adik-adikmu yang masih kecil-kecil ini. Biar simbok yang kerja buat cari uang biar perut kita masih bisa terisi”.

Dia tetap tak menjawab.

Rabu, 11 Januari 2012

Surat Untuk Bunda


Kepada Ibunda tersayang,

Apa kabar Bunda disana, pasti baik-baik saja bukan ? Semoga damai selalu menyertai. Ananda disini sedang merindu, rindu berada didekat Bunda seperti dulu. Ini surat pertama yang pernah ananda tulis buat Bunda, karena selama ini kita tidak pernah jauh. Namun kini Bunda sudah berpindah jauh sehingga ananda tulis surat ini buat mengurangi rasa rindu pada Bunda.

Bunda, ananda rindu sentuhanmu.

Teringat kala kecil, Bunda selalu membelaiku dengan tulus, meninabobokan dengan senandungmu yang merdu, menyuapi dengan tanganmu yang begitu hangat, membimbing dan menuntun dengan penuh ikhlas. Keadaan ekonomi keluarga yang begitu sederhana tidak menyurutkan niatmu untuk selalu menjaga dan membahagiakan anakmu ini. Bunda tetap bersyukur menjalani. Bunda tegar sebagai ibu rumah tangga yang bersuamikan Ayahanda yang pekerja keras untuk mencari nafkah, berjuang bersama demi kesejahteraan keluarga kita agar lebih baik.

Rabu, 19 Oktober 2011

Bapak


Bapak,
Maaf aku tidak bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Wajah yang selalu penuh senyum dengan guratan-guratan ketabahan dan kesabaran yang terpatri. Dihiasi kumis yang selalu melintang serta garis sisa-sisa ketampanan. Wajah yang tidak pernah marah, namun menghasilkan mata yang selalu menatap tajam penuh dengan kekecewaan jika melihat aku yang selalu tidak menurut perintahmu atau lalai menjalankan tugas.
Wajah yang dulu senantiasa melihat aku tumbuh hingga dewasa. Wajah yang belum pernah aku lihat ada air mata yang membasahinya, meskipun beberapa tahun lalu ditinggal Ibu berpulang. Hanya gerimis kecil terlihat dimatamu, begitu tegar ketika dilanda kehilangan besar atau mungkin juga begitu ikhlas ketika semua memang harus terjadi, sang pasangan jiwa pergi untuk selama-lamanya.

Bapak,
Maaf aku tidak bisa memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Padahal dulu tanganmu selalu memeluk, mendekap dan menuntun hingga aku mampu berjalan. Tangan kekar yang dulu sering menyuapi makanan pada anakmu ini yang masih balita, sambil membawanya jalan-jalan di pinggir rel kereta api di sekitar lingkungan rumahmu yang berdinding bambu. Tangan yang kadang mengajak menari sambil berdendang bersama. Tangan yang sudah begitu sering merasakan kerasnya hidup dan selalu menadah kala berdoa di sela-sela ibadah.