Halaman

Jumat, 07 Juni 2013

Masih Ada Kereta Api ke Medan



Baru saja aku meletakkan tas ransel di rak barang atas dan hendak duduk, ketika seorang gadis menegurku dengan suara tegas. “Kursi ini masih kosong  Bang?” tanyanya. Aku mengangguk pelan tanda mengiyakan.
“Boleh aku yang duduk disebelah jendela, Bang?” sapanya kemudian.
“Silahkan,” dengan ragu ku jawab sambil tersenyum kecil. Sebenarnya aku tidak rela memberikan kursi di dekat jendela itu kepadanya karena aku selalu senang duduk di posisi itu kalau sedang naik kereta api. Sebagai seorang pria sudah seharusnya aku mengalah, mungkin dia yang lebih membutuhkan kenyamanan berada di posisi tempat duduk itu.
Para penumpang yang lain masih berlalu-lalang memilih tempat duduk karena di kereta api Sribilah Utama kelas ekonomi ini, pada tiketnya tidak tertera nomor kursi yang seharusnya kita duduki tetapi para penumpang dibebaskan memilih sendiri kursi yang hendak mereka tempati. Cara yang tidak efektif, semrawut dan membuat para penumpang berjubel saling merebut kursi.
Pukul 08.40 WIB peluit tanda keberangkatan dibunyikan dan tidak lama kemudian kereta api pun melaju perlahan menuju Medan dari stasiun kecil ini di Rantau Prapat. Membawaku pulang ke rumah. Tempat yang sudah kudiami sejak aku lahir dua puluh tahun yang lalu. Benarkah disana tempat aku pulang? Ataukah ada tempat lain yang sesungguhnya untuk aku pulang? Saat ini aku belum bisa menjawabnya.

Jumat, 31 Mei 2013

Becak Motor



             “Gimana ceritanya?”
            “Liburan semester kemarin teman satu kos ku, Togu mengajak pergi ke kampungnya di Kabanjahe, sekalian menjenguk orang tuanya disana,” Eben mengawali ceritanya. “Karena belum pernah menginap disana, saya memutuskan untuk menerima ajakannya.”
“Wah pasti seru ni pengalamannya, terus?”
“Orang tua Togu mempunyai tanah yang sangat luas. Mereka menanaminya dengan sayur-sayuran dan buah-buahan. Suasananya sangat nyaman dan lingkungannya begitu sejuk. Di sekeliling yang tampak cuma hamparan hijau tanam-tanaman dan langit biru yang begitu bersih beserta awan-awannya yang seakan bisa dipegang. Dari rumahnya juga tampak pemandangan gunung Sinabung yang tinggi menjulang. Udaranya sejuk sekali sekaligus beraroma magis.”
“Ben, ini horornya dimana?”
“Tenang dulu Bang, baru mau masuk ini,” Eben melanjutkan ceritanya. “Jadi gini, pada malam kedua kami menginap di kampung itu, aku iseng mengajak Togu jalan-jalan keluar rumah pada malam hari. Menyusuri perkebunan disekitar kampung. Saat itu sudah hampir tengah malam. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah bangunan kecil seperti rumah yang berada disekitar perkebunan jeruk yang letaknya kurang lebih 500 meter dari rumah Togu. Karena penasaran, aku sedikit mendekatinya dan ternyata itu adalah sebuah kuburan,” Eben menghela nafas sejenak.

Selasa, 02 April 2013

Perempuan



perempuan datang tanpa diundang
menyelinap atas nama kasih sayang
berkumandang
kau ajarkan terbang
menggapai siang

perempuan pergi tanpa pesan
atas nama takdir meninggalkan
berkesan
tak cukup kata ‘tuk merangkaikan
segala keindahan

perempuan itu datang lalu pergi
membungkus rahasia hati
bersemedi
belum siap ‘tuk merindui
sepi menanti

Sabtu, 02 Maret 2013

Sosok Idola Remaja



Beberapa tahun belakangan ini, kita sepertinya kehilangan seorang sosok idola remaja di film Indonesia. Tidak ditemukan lagi seorang tokoh sosok remaja yang bisa dijadikan panutan atau setidaknya gaya dan penampilannya mempengaruhi para penonton film remaja. Banyak pembuat film yang menyajikan tokoh utama seorang remaja namun sosoknya masih belum ada yang mampu menjadikannya seorang idola dan perannya begitu fenomenal sehingga bakalan diingat terus dan menjadi legenda.
Seperti yang kita tahu, pada era tahun 80-an, para remaja pada masa itu sangat mengidolakan sosok Galih yang diperankan dengan baik oleh Rano Karno di film Gita Cinta Dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati. Sosok remaja yang sederhana namun romantis dengan lika-liku asmaranya bersama kekasihnya Ratna yang diperankan oleh Yessy Gusman. Kala itu banyak remaja pria yang ingin terlihat seperti Galih. Karena Galih pula banyak remaja pria saat itu yang mulai senang menumbuhkan kumis tipis mereka.

Kamis, 28 Februari 2013

Antara Semua Usia, Remaja dan Dewasa



Saya sangat iri dengan anak-anak ABG sekarang. Kalau mau nonton di bioskop mereka tinggal beli tiket dan langsung masuk. Meskipun di poster film terdapat tulisan “Untuk Dewasa”. Pengklasifikasian usia untuk menonton film sudah tidak begitu berpengaruh. Pihak bioskop juga sudah tidak peduli. Yang penting mereka bisa beli tiket untuk film yang mereka ingin tonton. Jadi apa gunanya Lembaga Sensor Film mengeluarkan klasifikasi film untuk kategori semua usia, untuk remaja dan untuk dewasa ?
Saya jadi ingat pengalaman saya menonton film di bioskop waktu masih kecil. Kedua orang tua saya senang nonton film ke bioskop terutama film Indonesia. Waktu itu sekitar awal tahun 80-an dan usia saya masih sekitar delapan tahun. Kami tinggal di Jogja. Seingat saya, kedua orang tua saya membawa saya pergi ke bioskop di daerah sekitar alun-alun keraton Jogja naik sepeda.
Film yang diputar adalah Perkawinan Nyi Blorong (1983) yang dibintangi oleh Suzanna dan Clift Sangra. Film ini memang dikategorikan dalam klasifikasi usia untuk tontonan 17 tahun ke atas. Jadi bukan untuk konsumsi anak kecil seperti saya. Setelah membeli tiket masuk ke bioskop, kami pun antri mau masuk ke dalam gedung bioskop.

Minggu, 27 Januari 2013

Tining dan Marlon


Jogja berbintang malam ini. Namun masih saja sepi disini, apalagi semenjak bapak pergi entah kemana. Tinggal ibu dan ketiga mbakku yang juga tidak begitu peduli denganku. Seperti biasa sunyi malam ini. Aku cuma bisa memandangi sebuah jembatan di depan rumah yang jarang dilewati orang. Jembatan tua yang sudah hampir roboh dan banyak orang bilang angker karena sudah banyak orang yang nekat bunuh diri disitu. Tempat yang strategis untuk mati. Cuma sungai kecil yang mengalir dibawahnya masih merdu terdengar suara gemericik airnya.
Itu ada seorang pria lewat sendirian. Mau kemana sendirian jalan kaki malam-malam begini. Dari wajahnya kelihatan masih muda, mungkin usianya sekitar dua puluhan tahun. Raut wajahnya keras, sepertinya dia bukan orang sini. Dari tadi pria itu cuma mondar-mandir aja di tengah jembatan, apa dia mau bunuh diri juga. Sepertinya iya.
Dia berdiri di satu sisi jembatan, kepalanya sering melihat ke bawah, matanya dipejamkan, eh melek lagi. Melihat ke kanan ke kiri. Mundur beberapa langkah. Maju lagi. Kelihatannya masih bingung. Payah laki-laki kok nggak tetap pendiriannya. Tak samperin ah.
“Mau bunuh diri, Mas ?” sapaku.
Dia terkejut dan bisa melihatku, lalu mundur beberapa langkah.

Minggu, 25 November 2012

Ini Saja Sudah Cukup


Aku selalu merasa senang berada di tempat-tempat seperti terminal, stasiun, pelabuhan dan bandara. Tempat mangkalnya alat-alat transportasi yang akan mengantarkan para penumpang pergi ke tempat tujuan. Ada yang berangkat ada yang pulang. Ada yang mengantar ada yang menjemput. Riuh ramai tapi menyenangkan melihat suasana seperti ini. Mereka saling mengungkapkan rasa dengan saling berpelukan, bersalaman, bertatapan dan senyuman. Bahkan kita bisa melihat banyak cinta disini.
Seperti aku sekarang disini, di sebuah stasiun kereta, sendiri. Aku akan pergi dari kota ini, menjauh darimu untuk entah berapa lama. Ya aku mengaku kalah karena pergi darimu. Aku tidak mau merusak hubungan cintamu dengan dia. Meski aku harus memendam rasa ini. Meski aku bisa mati bila tanpamu.
Dulu waktu kita pertama kali bertemu juga di kereta api dalam sebuah perjalanan. Aku sendiri kamu juga sendiri. Tujuanku pergi ke kota lain untuk suatu urusan dan kamu pulang ke kampung halaman tempat kedua orang tuamu dalam rangka liburan. Mungkin kita sudah ditakdirkan untuk duduk di nomor kursi yang bersebelahan. Kamu memohon duduk di kursi yang dekat dengan jendela meski nomor kursi itu adalah tempat dudukku. Itu awal percakapan kita. Mungkin aku merasa ini jatuh cinta pada pandangan pertama.