Halaman

Sabtu, 02 Maret 2013

Sosok Idola Remaja



Beberapa tahun belakangan ini, kita sepertinya kehilangan seorang sosok idola remaja di film Indonesia. Tidak ditemukan lagi seorang tokoh sosok remaja yang bisa dijadikan panutan atau setidaknya gaya dan penampilannya mempengaruhi para penonton film remaja. Banyak pembuat film yang menyajikan tokoh utama seorang remaja namun sosoknya masih belum ada yang mampu menjadikannya seorang idola dan perannya begitu fenomenal sehingga bakalan diingat terus dan menjadi legenda.
Seperti yang kita tahu, pada era tahun 80-an, para remaja pada masa itu sangat mengidolakan sosok Galih yang diperankan dengan baik oleh Rano Karno di film Gita Cinta Dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati. Sosok remaja yang sederhana namun romantis dengan lika-liku asmaranya bersama kekasihnya Ratna yang diperankan oleh Yessy Gusman. Kala itu banyak remaja pria yang ingin terlihat seperti Galih. Karena Galih pula banyak remaja pria saat itu yang mulai senang menumbuhkan kumis tipis mereka.

Kamis, 28 Februari 2013

Antara Semua Usia, Remaja dan Dewasa



Saya sangat iri dengan anak-anak ABG sekarang. Kalau mau nonton di bioskop mereka tinggal beli tiket dan langsung masuk. Meskipun di poster film terdapat tulisan “Untuk Dewasa”. Pengklasifikasian usia untuk menonton film sudah tidak begitu berpengaruh. Pihak bioskop juga sudah tidak peduli. Yang penting mereka bisa beli tiket untuk film yang mereka ingin tonton. Jadi apa gunanya Lembaga Sensor Film mengeluarkan klasifikasi film untuk kategori semua usia, untuk remaja dan untuk dewasa ?
Saya jadi ingat pengalaman saya menonton film di bioskop waktu masih kecil. Kedua orang tua saya senang nonton film ke bioskop terutama film Indonesia. Waktu itu sekitar awal tahun 80-an dan usia saya masih sekitar delapan tahun. Kami tinggal di Jogja. Seingat saya, kedua orang tua saya membawa saya pergi ke bioskop di daerah sekitar alun-alun keraton Jogja naik sepeda.
Film yang diputar adalah Perkawinan Nyi Blorong (1983) yang dibintangi oleh Suzanna dan Clift Sangra. Film ini memang dikategorikan dalam klasifikasi usia untuk tontonan 17 tahun ke atas. Jadi bukan untuk konsumsi anak kecil seperti saya. Setelah membeli tiket masuk ke bioskop, kami pun antri mau masuk ke dalam gedung bioskop.

Minggu, 27 Januari 2013

Tining dan Marlon


Jogja berbintang malam ini. Namun masih saja sepi disini, apalagi semenjak bapak pergi entah kemana. Tinggal ibu dan ketiga mbakku yang juga tidak begitu peduli denganku. Seperti biasa sunyi malam ini. Aku cuma bisa memandangi sebuah jembatan di depan rumah yang jarang dilewati orang. Jembatan tua yang sudah hampir roboh dan banyak orang bilang angker karena sudah banyak orang yang nekat bunuh diri disitu. Tempat yang strategis untuk mati. Cuma sungai kecil yang mengalir dibawahnya masih merdu terdengar suara gemericik airnya.
Itu ada seorang pria lewat sendirian. Mau kemana sendirian jalan kaki malam-malam begini. Dari wajahnya kelihatan masih muda, mungkin usianya sekitar dua puluhan tahun. Raut wajahnya keras, sepertinya dia bukan orang sini. Dari tadi pria itu cuma mondar-mandir aja di tengah jembatan, apa dia mau bunuh diri juga. Sepertinya iya.
Dia berdiri di satu sisi jembatan, kepalanya sering melihat ke bawah, matanya dipejamkan, eh melek lagi. Melihat ke kanan ke kiri. Mundur beberapa langkah. Maju lagi. Kelihatannya masih bingung. Payah laki-laki kok nggak tetap pendiriannya. Tak samperin ah.
“Mau bunuh diri, Mas ?” sapaku.
Dia terkejut dan bisa melihatku, lalu mundur beberapa langkah.

Minggu, 25 November 2012

Ini Saja Sudah Cukup


Aku selalu merasa senang berada di tempat-tempat seperti terminal, stasiun, pelabuhan dan bandara. Tempat mangkalnya alat-alat transportasi yang akan mengantarkan para penumpang pergi ke tempat tujuan. Ada yang berangkat ada yang pulang. Ada yang mengantar ada yang menjemput. Riuh ramai tapi menyenangkan melihat suasana seperti ini. Mereka saling mengungkapkan rasa dengan saling berpelukan, bersalaman, bertatapan dan senyuman. Bahkan kita bisa melihat banyak cinta disini.
Seperti aku sekarang disini, di sebuah stasiun kereta, sendiri. Aku akan pergi dari kota ini, menjauh darimu untuk entah berapa lama. Ya aku mengaku kalah karena pergi darimu. Aku tidak mau merusak hubungan cintamu dengan dia. Meski aku harus memendam rasa ini. Meski aku bisa mati bila tanpamu.
Dulu waktu kita pertama kali bertemu juga di kereta api dalam sebuah perjalanan. Aku sendiri kamu juga sendiri. Tujuanku pergi ke kota lain untuk suatu urusan dan kamu pulang ke kampung halaman tempat kedua orang tuamu dalam rangka liburan. Mungkin kita sudah ditakdirkan untuk duduk di nomor kursi yang bersebelahan. Kamu memohon duduk di kursi yang dekat dengan jendela meski nomor kursi itu adalah tempat dudukku. Itu awal percakapan kita. Mungkin aku merasa ini jatuh cinta pada pandangan pertama.

Selasa, 30 Oktober 2012

Aktris Pemeran Utama di Film-film Rhoma Irama



Rhoma Irama selain sukses di dunia musik dangdut hingga dianggap sebagai “Raja Dangdut”, beliau juga sukses di dunia film setidaknya secara komersil. Sejauh ini tercatat sudah lebih dari 20 judul film layar lebar yang dibintangi Rhoma Irama. Film-filmnya sampai sekarang masih sering diputar di stasiun televisi, dan sering ditayangkan pada kesempatan-kesempatan tertentu.

Rhoma Irama sering memerankan dirinya sendiri sebagai Rhoma di setiap filmnya, meskipun di beberapa film beliau menggunakan nama lain sebagai tuntutan cerita, saat menyamar misalnya. Ciri khas lain dari film Rhoma Irama adalah dihiasi dengan lagu-lagu dangdut yang mengikuti alur cerita filmnya hingga kemudian lagu-lagu itu turut melegenda. 

Hanya sedikit aktris yang bermain menjadi pemeran utama wanita sebagai tokoh love interest Rhoma Irama dalam setiap filmnya. Entah kenapa hanya sedikit aktris yang bermain menjadi pasangan Rhoma Irama. Hingga terkesan hanya aktris itu-itu saja yang menjadi tokoh utamanya.

Berikut ini beberapa aktris yang sering menjadi pemeran utama wanita di setiap film Rhoma Irama :

Kamis, 06 September 2012

Aktor Laga Nasional


Kalau di Hollywood ada sekumpulan aktor laga yang kembali beraksi dalam sebuah film dan dikomandoi oleh Stallone, di Indonesia sebenarnya bisa juga melakukan hal yang sama. Mengumpulkan beberapa aktor laga yang pernah berjaya di tahun ’80-an untuk berkolaborasi dengan para bintang laga masa kini dalam sebuah film laga. Sesuatu yang menarik, mengingat film-film laga kita lebih menonjolkan jurus-jurus seni bela diri tanpa harus menggunakan senjata api dan mesiu. Apalagi jika dibuat dengan tema kolosal.
Untuk mengingat kembali para aktor laga kita yang pernah berjaya pada masanya, berikut ini beberapa diantaranya, yang semoga di suatu hari nanti bisa berkolaborasi menghadirkan sebuah film laga yang indah dan bermutu.
Tidak bisa dipungkiri jika mendengar kata aktor laga Indonesia legendaris, pasti kita akan menyebut nama Barry Prima. Beliau banyak membintangi film-film laga di era tahun 80-an hingga 90-an. Bahkan Barry Prima sudah identik dengan Jaka Sembung, tokoh yang sering diperankannya. Film-film beliau antara lain, Jaka Sembung Sang Penakluk (1981), Pasukan Berani Mati (1982), Carok (1985), Menumpas Teroris (1986), Mandala Dari Sungai Ular (1987), Macho (1994), dll.

Minggu, 12 Agustus 2012

Putih


Putih. Itu yang ku lihat pertama kali waktu mataku perlahan terbuka. Dinding-dinding ini, langit-langit, awan tipis yang menyembul di balik jendela, tempat tidur, pakaian beberapa orang disekitarku. Pandanganku yang samar-samar mulai terang. Aku paksa mata ini terbuka. Sudah berapa lama aku terpejam, entahlah aku tak mampu mengingatnya. Ada beberapa orang yang kukenal disekelilingku mungkin mereka sedang menjagaku. Mereka saling berbicara namun aku tidak begitu jelas mendengar suara mereka.
 
Ada ibu disampingku, tapi kenapa ada air mata dipipinya. Jangan menangis ibu aku baik-baik saja. Tangan ibu mulai membelai kepalaku, mengusapnya perlahan dengan hangat. Maafkan aku ibu, anak yang sering menyusahkanmu bahkan di saat seperti ini pun aku masih membuatmu menangis. Entah sudah berapa lama ibu duduk disampingku, guratan-guratan lelah di wajahnya begitu jelas tergambar. Bapak dan adikku juga ada disini. Wajah mereka juga tampak mendung.