Halaman

Selasa, 07 Februari 2012

Le


“Ya sudah sekarang cari sana bapakmu le, sudah lama kan dia belum pulang, 13 tahun le bapak pergi ninggalin kita. Bapakmu pengecut, mungkin pikirannya sedang kalut waktu itu. Dia bingung, stress dan merasa kalah”.

Dia diam saja tak menjawab. 

“Dulu simbok melarang mencari bapakmu karena le masih kecil, biar saja bapakmu pergi nggak usah dicari-cari kalau dia mau pulang biar saja pulang sendiri. Jaga saja dulu adik-adikmu yang masih kecil-kecil ini. Biar simbok yang kerja buat cari uang biar perut kita masih bisa terisi”.

Dia tetap tak menjawab.

“Bapakmu pergi meninggalkan kita semua karena nggak sanggup lagi melihat kemiskinan yang kita alami, upah bapakmu dari hasil kerja sebagai kuli bangunan nggak cukup untuk membiayai kehidupan kita, apalagi jaman itu orang-orang banyak yang di PHK dari pekerjaannya. Kata tetangga sebelah karena adanya krismon. Simbok nggak tahu le apa itu kismon yang simbok tahu harga beras dan bahan-bahan makanan lainnya pada naik semua, kata tetangga karena banyak terjadi kerusuhan di kota le, banyak penjarahan. Jadinya orang-orang sudah nggak mikirin bangun rumah lagi, sehingga bapakmu juga sering nganggur di rumah karena nggak ada kerjaan. Lha wong bapakmu bisanya ya cuma jadi kuli”.

Dia hanya mendengarkan saja simboknya bicara.

“Waktu itu bapakmu pergi pagi-pagi sekali. Sampai malam simbok menunggu bapakmu nggak pulang-pulang juga, nggak ada kabar beritanya padahal simbok lagi hamil 4 bulan adikmu yang nomor 3 le. Simbok bingung le, sudah tanya sama teman-teman bapakmu tapi nggak ada yang tahu, akhirnya simbok pasrah ditinggal bapakmu. Simbok cuma bisa sabar dan terus berdoa semoga bapakmu cepat pulang”.

“Akhirnya simbok kesana kemari cari kerjaan apa saja yang dapat le, untung simbok dapat kerjaan jadi tukang cuci di beberapa rumah orang-orang kaya itu. Alhamdulilah le kita masih bisa makan dan membayar rumah kontrakan. Simbok cuma bisa memberi ini saja le.

Diam, itu saja yang dia lakukan.

“Maaf le simbok nggak bisa mensekolahkanmu sampai sarjana. Simbok ingin le jadi orang pinter, simbok hanya bisa membiayai kamu sampai SD saja, adik-adikmu juga butuh sekolah le biar mereka juga pintar. Adikmu yang nomor 1 malah minta nggak usah sekolah, dia pengen bantu simbok jualan di pasar. Ya le akhirnya simbok bisa ngumpulin uang buat modal jualan sayuran di pasar. Kamu di rumah saja le jaga dua adik perempuanmu yang masih kecil”.

Mendengar dan terus mendengarkan.

“Biarin saja bapakmu pergi le, mungkin dia sudah kecantol janda kaya atau mungkin juga sudah mati. Biarkan saja. Bapakmu pergi nggak ninggalin apa-apa le, malah punya utang di warung kopi langganannya yang ada di depan gang rumah kita, jadi simbok yang nanggung’. 

Le, simbok nggak nangis, lihat le, air mata simbok sudah habis untuk bapakmu, sudah ludes, simbok cuma kenal keringat le, yang setiap hari bersama simbok. Lihat le adik-adikmu sekarang sudah besar-besar. Adik mu yang nomer 3 masih sekolah di SMP dan yang ragil malah sudah mau masuk SMP tapi adikmu laki-laki yang nomor 1 tetap nggak mau sekolah, dia tetap mau nemenin simbok dagang. Tambah besar dia tambah ganteng ya le, wajahnya mirip banget sama bapakmu itu”.

Kalau bisa bicara dia akan bicara.

“Simbok bangga sama anak-anak simbok, terutama kamu le, meski nggak sekolah tinggi tapi le tetap jadi anak pintar, jago main sepakbola. Simbok ikut senang waktu le sama teman-temanmu bawa piala hasil menang lomba sepakbola sekecamatan waktu itu le. Nah sekarang prestasimu makin tinggi, katanya sekarang le sudah main di klub sepakbola besar dan sering jadi juara. Malah dari main sepakbola itu le bisa dapat duit dan sekarang juga sudah bisa beli  sepeda motor sendiri ya le, meskipun masih kredit”.

Dia ingin membelai wajah simboknya.

Le sebenarnya sore kemarin waktu le minta ijin mau latihan sepakbola, perasaan simbok nggak enak, seperti ingin ngelarang le pergi. Tapi niat le kuat untuk pergi latihan karena katanya ini latihan terakhir menjelang petandingan besar yang akan diikuti oleh klub sepakbolamu itu. Lha kok tiba-tiba dalam perjalanan le ditabrak mobil ngebut. Nggak bertanggung jawab malah kabur. Hidupmu jadi cuma sampai disini aja le, sesingkat ini. Le masih harus bahagia. Kita sekeluarga masih tetap bisa bertahan le meski sudah ditinggal bapakmu. Tiba-tiba sekarang le ikut pergi ninggalin simbok sama adik-adikmu disini”.

Dia sudah terbujur kaku.

“Lihat, lihat le banyak orang yang datang ke rumah kita, mereka semua mendoakan le, anakku cah bagus. Simbok sudah ikhlas le, siapa tahu dengan begini kamu bisa mencari bapakmu dan menemuinya. Le kalau nanti ketemu bapakmu, beri tahu kalau kami disini baik-baik saja, kami masih bisa bahagia walau tanpa bapak. Kami nggak menyerah dan masih bisa bertahan hidup”.

“Lihat le simbok nggak nangis kan le, air mata simbok sudah habis. Duh Gusti Allah  paringono sabar”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar