Halaman

Minggu, 12 Agustus 2012

Putih


Putih. Itu yang ku lihat pertama kali waktu mataku perlahan terbuka. Dinding-dinding ini, langit-langit, awan tipis yang menyembul di balik jendela, tempat tidur, pakaian beberapa orang disekitarku. Pandanganku yang samar-samar mulai terang. Aku paksa mata ini terbuka. Sudah berapa lama aku terpejam, entahlah aku tak mampu mengingatnya. Ada beberapa orang yang kukenal disekelilingku mungkin mereka sedang menjagaku. Mereka saling berbicara namun aku tidak begitu jelas mendengar suara mereka.
 
Ada ibu disampingku, tapi kenapa ada air mata dipipinya. Jangan menangis ibu aku baik-baik saja. Tangan ibu mulai membelai kepalaku, mengusapnya perlahan dengan hangat. Maafkan aku ibu, anak yang sering menyusahkanmu bahkan di saat seperti ini pun aku masih membuatmu menangis. Entah sudah berapa lama ibu duduk disampingku, guratan-guratan lelah di wajahnya begitu jelas tergambar. Bapak dan adikku juga ada disini. Wajah mereka juga tampak mendung.

“Jangan menangis Buk”, suaraku lirih.

Gerimis juga hadir di luar, mungkin sisa hujan tadi. Tetesan airnya begitu indah dan bening. Tapi mengapa tidak muncul pelangi yang biasanya datang setelah hujan reda. Aku ingin melihatmu pelangi.

Aku masih terbaring. Perlahan aku lihat sekeliling, selang infus ini masih juga melekat ditanganku. Bau obat-obatan khas rumah sakit mulai merebak ke hidungku.

Pandanganku beralih ke sosok yang  dulu begitu dekat denganku, dengan hatiku. Kamu sahabatku. Kamu juga ada disini menemaniku. Kamu yang selalu menghiasi mimpi-mimpiku. Kamu yang selalu aku rindu. Kamu yang menjadi dambaanku. Kamu yang akhirnya aku cinta. Kamu yang tak mungkin bisa aku miliki karena kamu telah memilih dia sebagai pilihan hatimu, pendamping hidupmu, suamimu. Dia juga ada disini bersamamu, memegang erat tanganmu.  

Mengapa bayanganmu tidak bisa lepas dari ingatanku. Kita dulu sering bersama menjalani hari-hari di kampus. Kadang kamu sering bercerita tentang banyak pria yang mencoba mendekatimu namun kamu tolak secara halus. Aku senang mendengarnya. Tapi juga kadang ada seorang pria yang kamu taksir dan kamu memujanya dengan begitu bersemangat. Aku kecewa mendengarnya. Hingga akhirnya kamu bisa mendapatkan pria pilihan hatimu. Kamu bahagia. Aku harus senang melihatnya meski hatiku perih. Kamu tak kan pernah tahu itu.

Penyakit yang sudah lama kuderita ini terus menggerogoti dan akhirnya mencapai stadium 4. Aku tak mampu menghindarinya lagi. Meski aku terus bertahan ketika telah didiagnosa dokter dua tahun silam. Banyak yang tidak tahu termasuk kamu. Aku tak ingin orang mengasihaniku. Aku merasa bisa berjuang melawannya. 

Gerimis perlahan berhenti, aku masih menanti pelangi. Mengapa belum muncul, aku sangat menanti keragaman warnanya yang indah. Dulu aku sering melihatnya di wajahmu.

Mungkin aku yang terlalu pengecut, tidak berani mengatakan rasa ini padamu hingga waktu terus berlalu. Waktu yang akhirnya menutup kisahku. Pujianku padamu jadi rahasia. Seharusnya aku nekat mengungkapkannya dahulu dan menerima apapun resikonya nanti yang bakal terjadi.

Suara-suara itu masih samar terdengar. Aku lihat kamu menitikkan airmata. Jangan menangis sahabat, ya sahabat, kamu masih menganggapku sahabat kan ? Sekarang aku ikhlas kamu sudah bahagia bersamanya. Semoga dia bisa melindungi, menjaga hatimu. Dadaku mulai terasa sesak.

“Sari” mataku tertuju padamu.

“Apa Yo, jangan banyak bicara dulu” jawabmu.

“Bolehkah aku memelukmu sekali saja, sekali saja” pintaku terbata.

Tiba-tiba kamu mendekat dan merangkulku perlahan. Hangat, itu yang kurasakan. Ya Tuhan jangan akhiri ini, mohon hentikan waktu sejenak. Aku ingin merasakannya lebih lama, desah nafasnya, detak jantungnya. Jangan lepaskan aku darinya, aku hanya ingin memeluknya sekali saja. Merasakan dekapannya.

Aku lirik sebentar ke luar jendela. Dia datang, pelangi itu muncul bersama aneka warnanya yang indah. Tapi sebentar, kenapa semua warnanya perlahan-lahan membaur menjadi satu lalu membentuk putih. Semakin lama semakin jelas dan terang. Pelangi itu kini cuma membentuk satu warna. Putih dan terus putih.

Kulihat tubuhmu masih memelukku dan terdengar suara tangismu. Hentikan, jangan menangis. Aku sudah bahagia. Dan ibu tak henti-hentinya memanggil namaku.

“Rio ... rio jangan pergi”.

1 komentar: