Halaman

Minggu, 27 Januari 2013

Tining dan Marlon


Jogja berbintang malam ini. Namun masih saja sepi disini, apalagi semenjak bapak pergi entah kemana. Tinggal ibu dan ketiga mbakku yang juga tidak begitu peduli denganku. Seperti biasa sunyi malam ini. Aku cuma bisa memandangi sebuah jembatan di depan rumah yang jarang dilewati orang. Jembatan tua yang sudah hampir roboh dan banyak orang bilang angker karena sudah banyak orang yang nekat bunuh diri disitu. Tempat yang strategis untuk mati. Cuma sungai kecil yang mengalir dibawahnya masih merdu terdengar suara gemericik airnya.
Itu ada seorang pria lewat sendirian. Mau kemana sendirian jalan kaki malam-malam begini. Dari wajahnya kelihatan masih muda, mungkin usianya sekitar dua puluhan tahun. Raut wajahnya keras, sepertinya dia bukan orang sini. Dari tadi pria itu cuma mondar-mandir aja di tengah jembatan, apa dia mau bunuh diri juga. Sepertinya iya.
Dia berdiri di satu sisi jembatan, kepalanya sering melihat ke bawah, matanya dipejamkan, eh melek lagi. Melihat ke kanan ke kiri. Mundur beberapa langkah. Maju lagi. Kelihatannya masih bingung. Payah laki-laki kok nggak tetap pendiriannya. Tak samperin ah.
“Mau bunuh diri, Mas ?” sapaku.
Dia terkejut dan bisa melihatku, lalu mundur beberapa langkah.
            “Siapa kau ?” tanyanya bergetar.
“Kalau mau lompat, lompat aja nggak usah kebanyakan mikir.”
Dia diam saja.
“Mas pikir mati itu enak, kok sepertinya menggampangkan.”
Wajahnya masih ketakutan.
“Atau mau saya bantuin, sini biar tak bantu jorokin ke sungai.”
“Eh ... engg ..emm.”
“Putus cinta ya, jadi laki-laki kok cengeng, udah cari yang lain saja.”
“Bingung aku, tadinya mau bunuh diri tapi masih takut mati.”
“Ada masalah apa sampeyan, Mas ? Sini curhat ke saya, gratis lho.”
Dia mulai berjalan mendekatiku, lumayan juga wajahnya dilihat dari dekat.
“Rencananya mau bunuh diri tapi masih takut saja. Berbagai cara mau ku coba tapi kok nggak berani. Pengen potong nadi tapi takut sakit. Pengen minum racun serangga pasti nggak enak rasanya, pengen ditabrak kereta api nanti badanku berantakan. Pengen disuntik mati tapi siapa yang mau nyuntik. Sepertinya nggak ada cara bunuh diri yang mudah dan menyenangkan. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari jembatan lalu terjun dan mudah-mudahan bisa tenggelam karena aku nggak bisa berenang, tapi malah kau datang, mengganggu saja.”
Dia terus bercerita.
“Namaku Marlon Sembiring dari tanah Karo Sumatera Utara, setahun yang lalu selepas lulus SMA aku merantau ke Jakarta. Tapi karena ketiduran dan salah naik bus akhirnya aku terdampar di sini, di Jogja. Ya sudahlah mungkin takdirku harus tinggal di sini dulu. Aku nggak punya saudara disini dan tujuanku cuma mau cari kerja. Ternyata cari kerja itu susah juga, mau pulang kampung masih malu. Akhirnya pekerjaan-pekerjaan kasar aku jalani. Jabatanku terakhir jadi kenek angkot. Biarlah, yang penting masih bisa untuk makan dan bayar sewa kost.”
Aku masih mendengarkan dengan seksama logat bataknya.
“Tiga bulan lalu aku jatuh cinta sama tetanggaku di sebelah tempat kostku. Seorang gadis namanya Wulan, anak kuliahan. Wajahnya manis kali, bicaranya halus, rambutnya panjang terurai, kulitnya selembut sutra, hidungnya ...”
“Sudah nggak perlu detil, intinya si Wulan ini cantik. Titik, terus ...,” potongku.
“Aku tembaklah dia jadi pacarku, eh mau pula dia. Tapi inilah masalahnya, bapaknya nggak suka sama aku. Dia pengen punya menantu orang Jawa juga, kalau bisa malah orang keraton katanya. Musnahlah sudah harapanku.”
“Yang pentingkan anaknya sudah suka sama Masnya”
“Iya, itulah makanya dia pun masih bingung ini, galau katanya.”
“Terus berjuang Mas, jangan nyerah dulu.”
“Nggak sanggup aku kehilangan dia. Eh, ngomong-ngomong janganlah aku dipanggil mas-mas, agak janggal kurasa, panggil aku abang saja ya.”
“Okelah Bang, lalu ?”
“Nah, kalau aku datang ke rumahnya, bapaknya selalu bilang kalau mau pacaran sama anaknya mesti ada syaratnya.”
“Apa syaratnya, Bang ?”
“Aku harus bisa nyanyi lagu Jawa dengan baik dan benar.”
“Hi hi hi hi hi.”
“Macam setan pula ketawamu. Coba kau bayangkan, bahasa Jawa pun aku belum begitu paham, masa pula aku disuruh nyanyi lagu Jawa dengan baik dan benar.”
Coba kubayangkan sebentar, sebuah lagu Jawa dinyanyikan dengan logat batak. Hemmm.
“Oh iya sudah lama kita bicara tapi aku belum tahu siapa kau, kenapa seorang cewek cantik dengan baju aneh berwarna kuning ini malam-malam masih keluar rumah.”
“Kenalkan nama saya Tining Bang, singkatan dari Kunti Kuning.”
“Dimana rumahmu Kuning ?”
“Itu Bang, sebelah situ.”
“Mana ? Mana ada rumah di situ, cuma sebuah pohon beringinnya ku tengok.”
“Ya disitu tempat tinggal saya Bang.”
“Hah, oooo iya namamu kan Kun ... Kun ..., jadi kau ha ... han ... tuuu.”
“Hi hi hi hi, iya, sudah jangan takut Bang, siapa tahu saya bisa bantu masalah Abang.”
“Aku masih heran, biasanya kan kalau yang ku tengok di film-film itu bajunya Kunti warnanya putih ini bajumu kok warnanya kuning ?”
“Itu kan di film Bang, saya kan bisa  fashionable.”
“Tapi wajah kau kok nggak seram.”
“Emang hantu nggak boleh cantik Bang, di kalangan hantu saya yang paling cantik Bang, saya mendapatkan gelar Putri Kunti Indonesia tahun ini, Bang. Malahan tahun depan saya bakal dikirim ke ajang Miss Ghost Universe di Brazil.”
“Oooo.”
“Itulah juga yang membuat mbak-mbak saya jadi iri dan sering membully saya Bang, sekarang aja saya ditinggal sendirian di rumah.”
“Bukan dirumah tapi di pohon beringin !”
“Iya, iya itu kan rumah saya.”
“Cantik-cantik tinggalnya di pohon, kan capek manjat-manjat.”
Tak cekik juga ni orang.
“Mbak-mbak kau pergi kemana ?”
“Ketiga mbak dan ibu saya pergi bertamu ke rumah seorang janda yang bernama Randa Kudapan di daerah Gedhongkuning sana, Bang. Janda itu punya seorang anak laki-laki ganteng yang bernama Pocong Lumutan. Maksud ibu saya, mau mengenalkan ketiga mbak saya itu dengan si Pocong Lumutan itu. Siapa tahu dia tertarik dengan salah satu mbak saya itu. Lha saya nggak boleh ikut, padahal saya juga kepengen lihat mas Pocong Lumutan itu.”
“Penting kali itu rupanya ? Apa ada pocong yang ganteng ? Sudahlah tenang saja, kalau jodoh nggak lari kemana. Ketiga mbak kau itu cantik-cantik juga seperti kau ?”
            “Masih kalah tipis dari saya, Bang, hi hi hi hi.”
            “Pasti nama mereka juga seaneh nama kau.”
“Mbak saya pertama namanya Tirah, alias Kunti Merah, mbak yang kedua namanya Tijo, Kunti Ijo dan mbak saya yang ketiga namanya Tiru, Kunti Biru.”
“Nama yang aneh. Keluarga yang aneh. Hantu yang aneh.”
“Yo wis lah, Bang. Nggak usah bunuh diri, capek Bang jadi arwah penasaran, gentayangan terus. Begini, mulai besok tiap malam datang saja kemari biar tak ajari lagu-lagu Jawa. Mau apa, belajar mocopatan atau nembang Dandhang Gulo, Yen Ing Tawang Ono Lintang, Walang Kekek.”
“Apa itu ? Sudahlah lagu nya Didi Kempot saja, yang apa itu ... oh Sewu Kutho.”
Akhirnya beberapa malam kemudian dia selalu datang rutin dan aku selalu mengajarinya menyanyi lagu Jawa, semangatnya cukup tinggi dan suaranya memang bagus. Setelah aku nyatakan lulus besoknya langsung Bang Marlon mempraktekkan hasil les nyanyi lagu Jawanya di depan bapak pacarnya.
***
Beberapa hari kemudian.
Bang Marlon datang kembali menemuiku, kali ini aku suruh dia naik ke atas pohon tempat tinggalku, dengan terpaksa dia ikuti perintahku. Wajahnya sumringah sepertinya ia berhasil menyanyikan lagu Jawa hasil bimbinganku di depan bapak pacarnya.
“Terima kasih Ning atas bantuannya, usahaku tidak sia-sia, aku berhasil menyanyikan lagu Sewu Kutho dengan baik dan benar.”
“Gimana Bang reaksi bapaknya ?”
“Dia cuma manggut-manggut, sepertinya dia malu mengakui kekalahannya dan merestui hubungan kami.”
“Hi hi hi hi, saya juga lagi senang ini, Bang.”
“Kenapa, diajak main film ?”
“Bukan, itu mas Pocong Lumutan ternyata jatuh cintanya malah sama saya, Bang. Bukan dengan mbak-mbak saya. Semalam dia datang ke rumah ...”
“Pohon beringin !”
“Iya ! Iya pohon beringin, dia melihat saya dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, Bang.”
            “Kenapa bisa begitu ?”
“Katanya karena saya punya andheng-andheng di pipi, mirip Suzanna. Ternyata dia penggemar berat mbak Suzanna.”
“Haduhhh, benar kan hantu yang aneh”
“Hi hi hi hi hi.”
Tiba-tiba wajah bang Marlon berubah murung.
“Kenapa lagi Bang ?”
“Ada satu masalah lagi, Ning.”
“Apa lagi, coba bilang mana tahu Tining bisa bantu lagi.”
“Ibunya Wulan itu kan orang Minang, jadi dia pun minta supaya aku bisa nyanyi lagu Minang juga, dengan baik dan benar.”
“Waduh kalau gitu cari hantu lain lah, Bang !”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar