Halaman

Rabu, 09 Oktober 2013

[BeraniCerita #30] Tak Menyatu



Sudah lima belas menit aku menunggu. Dia belum datang juga. Sebentar lagi kereta akan berangkat. Kereta yang setiap pagi selalu kami tumpangi untuk membawa kami ke tempat kerja di pusat kota. Penuh kaum urban pekerja keras pengais rejeki dari pinggir kota yang rela berdesakan demi mendapatkan bangku kosong dan ingin segera tiba ke tujuan.

Aku masih menunggunya di bangku kayu panjang yang ada di peron stasiun ini. Sebuah bangku yang menjadi saksi pertemuanku dengannya. Biasanya kami akan duduk disitu sambil menunggu salah satu dari kami yang datang belakangan. Kemudian kami  akan naik kereta yang sama dan duduk bersebelahan atau kadang juga berdiri berdekatan. Ketika sampai di stasiun tujuan, kami akan berpisah menuju tempat kerja masing-masing.

Sudah tiga bulan ini hubungan kami makin akrab. Tanpa sadar kami sudah saling menyebut kata sayang, aku juga tidak tahu mengapa bisa begitu nyaman bila berada di dekatnya. Aku selalu merasa bahagia bila bersamanya. Bahkan kadang setelah pulang kantor kami janjian di sebuah coffee shop untuk sekedar saling curhat masalah kerjaan atau keluarga. Pulang kerjapun kami akan selalu naik kereta yang sama.

Peluit tanda keberangkatan sudah berbunyi. Dia belum datang juga. Dimana Dia? Apa tidak masuk kerja hari ini? Aku kehilangan. Perlahan kereta melaju dan suaranya menambah kebisingan peron ini. Aku biarkan keretaku berlalu. Biarlah telat masuk kerja hari demi menunggumu. 

Ponselku bergetar, sebuah pesan masuk.

                           Mas, aku gak masuk kerja hari ini, anakku sedang sakit

Anak lelaki satu-satunya sedang sakit. Pasti dia sedang menjaganya di rumah dan ijin tidak masuk kerja hari ini. Aku memang mencintai seorang wanita bersuami dan sudah mempunyai seorang anak. Salahkah hatiku memilihnya?

Keretaku sudah melaju jauh, tinggal aku disini yang sedang memandangi rel kereta. Aku dan dia seperti rel kereta itu. Selalu beriringan namun tak bisa menyatu. Karena ada seorang istri yang selalu menungguku di rumah.


(299 kata)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar